Diana, putri
cantik dari kerajaan holy palace yang terkenal dengan rambutnya yang
indah. Sayangnya meskipun mukanya
berporos cantik tapi hatinya buruk. Ayahnya adalah raja yang bijak,
rakyat-rakyatnyapund tunduk kepada raja. Tapi, semenjak putrid Diana kehilangan
ibunya yang tercinta, Diana menjadi sangat sombong dan menjengkelkan dan
membuat sedikit kehebohan diantara rakyat yang dipimpin oleh ayahnya.
Suatu
saat Diana bersama asistennya berbelanja di toko baju yang cukup terkenal
*di toko*
Diana : “hemm…ini bagus…saya ambil ini” (sambil menunjuk baju
didepannya)
Asisten : “nona saya rasa ini sudah cukup banyak…” (sambil kerepotan membawa
belanjaan)
Diana : “diam! Ini tidak mungkin cukup, saya tidak mungkin memakai
barang yang sama dua kali!”
Rakyat1 : “ih norak sekali! Baru pertama kali belanja ya?”
(memandang sinis Diana)
Rakyat2 : “tau tuh! Kasian asistennya juga kali!” (berbisik
ke rakyat1)
Diana : “diam rakyat jelata! Kalian yang baru pertama kali belanja!
Kalau mau gossip jangan disini!”
Asisten : “sudah non” (menjatuhkan belanjaan)
Diana : “heeh! Siapa suruh menjatuhkannya? Nanti rusak lagi! Cepat
ambil lagi”
Ayah
Diana bukannya tidak mendengar isu-isu tentang sikap negative anaknya. Tapi,
raja terlalu sibuk dengan pekerjaan keraannya.
Suatu
saat rakyat-rakyat yang sudah merasa sangat jengkel membuat perundingan agar
dapat memberi pelajaran ke putri Diana. Sehingga mereka bekerja sama dengan
asisten putri.
Rakyat1: “asistennya putri!”
Asisten : (celinga-celingu) “siapa kau?”
Rakyat2: “kami ingin melakukan
perundingan denganmu”
Asisten : “perundingan tentang apa?”
Pada
awalnya asisten ragu untuk bekerja sama, tapi diapun mepertimbangkan lagi
dengan bijaksana. Ia juga turut berpikir tentang masa depan putri jika tidak
dikasih tindakan yang membuat sikapnya berubah.
Esok
harinya, asistenpun menjalankan rencananya.
Asisten : “nona, anda sudah dengar kalau ada anak perdana mentri kerajaan
tetangga yang pindah
dipinggiran kota?”
Diana : “benarkah? Bagaimana mukanya?”
Asisten : “kata penduduk sekitar sih lumayan tampan”
Diana : “benarkah? Kau tau alamatnya?”
Asisten : “aku tidak tau, tapi ibu steven tau”
Diana : “yasudah cepat kau tanyakan padanya!”
Asisten : “entahlah putri, tapi aku rasa anda lebih baik menanyakan langsung
padanya”
Diana : “memangnya kenapa?”
Asisten : “aku akan izin 3 hari mulai nanti sore, orang tua ku sakit”
Diana : “baiklah”
Putripun
langsung pergi ke rumah ibu steve.
Diana : (mengetuk pintu)
Ibu : “ya masuk…”
Diana : (masuk dengan bersemangat)
Ibu : “hah..” (terkejut dan langsung memberi hormat ke putri)
Diana : “ibu steven! Kau tau alamat anak mentri yang baru pindah
itukan?”
Ibu : “ohh dia, iya ibu tau”
Diana : “cepat beri tau aku!”
Ibu : “sabar…, ini” (mengacungkan kertas)
Diana : “makasih ibu steve!”
Ibu : “tapi ingat putri, jika anda ingin kesana harus jalan
kaki”
Diana : “memangnya kenapa kalau pakai kereta kuda?”
Ibu : “itu akan mengganggunya, dan lebih baik anda pergi
sendiri”
Karena
putri terlalu bersemangat, tanpa pikir panjang putri langsung pergi ke alamat yang
diberikan ibu steven. Dia pun mulai berjalan dari rumah ibu steven.
Diana : “huh masih jauh, aku haus lagi, mana ada café di pelosok sini!
Lain waktu aku akan buat
peraturan tentang ketersediaan café di
desa”
penjual : “minum…minum”
Diana : “mba tunggu”
Penjual : “ya, ada yang bisa saya bantu?”
Diana : “pasti lah! Aku ingin minuman cepat!”
Penjual : “anda mau apa?”
Diana : “apa saja lah!”
Penjual : “memangnya anda mau kemana?”
Diana : (menyodorkan kertas berisi alamat)
Penjual : “wow…jauh sekali”
Diana : “memangnya kenapa?”
Penjual : “tidak apa, tapi saya saran kan anda meminum in agar energy anda
bertambah”
Diana : “benarkah? Apa ini bekerja?”
Penjual : “tentu saja”
Diana : (meminum sampai habis)
Diana : *uwekh* “apa ini? Pait sekali?”
Penjual : “hahaha, makanya jangan belagu! Biar tau rasa kamu”
*tiba-tiba ibu steven dan asisten putri
muncul*
Diana : “asisten? Ibu steven? Kenapa ada disini? Apa yang terjadi?”
(menahan rasa pahit)
Asisten : “maaf putri”
Penjual : “kalau kau ingin pahitnya hilang, kau haru smeminum obat ini”
Diana : “sini berikan”
Penjual : “eits tidak semudah itu”
Diana : “apa? Apa yang harus ku lakukan?”
Penjual : “kau harus mengubah sikapmu, itu menjengkelkan”
Diana : “baiklah, aslkan kalian ingin enjadi temanku”
Penjual : “baiklah itu urusan gampang”
Putri
dan rakyatnya pun saling membaur, putri menjadi sosok yang di idolakan
anak-anak kecil yang tinggal di sekitar kerajaannya. Sang putri pun sangat
bahagia sekarang. Jadi meskipun setinggi apapun jabatan atau status kita, kita
harus tetap rendah hati. Karena kita sama-sama memakai harta dan rizki dari
tuhan, kita sama-sama diciptakan oleh tuhan dari tanah.
TAMAT
